Temanku Seorang Kurir Narkoba

Selma R. Azizah
2 min readMar 8, 2023

--

“Abang” biasa aku menyebutnya. Kami bertemu di 2020 silam saat pandemi mulai datang. Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya, sebatas via gawai saja. Iya, kalau dulu ada istilah sahabat pena, aku juga punya, bedanya lebih modern saja. Bukan hanya dia sebetulnya, ada yang lainnya juga, tetapi, untuk kali ini, “Abang” dan kisah kelamnya yang akan aku ceritakan.

Bermula saat dia berada di tahun terakhir masa SMA. Hidupnya cukup kacau. Keluarga, ekonomi, teman, semuanya kacau. Pergaulannya semakin liar. Tidak kenal lagi mana siang mana malam. Di tengah kalutnya kehidupan, datang seorang senior di sekolahnya, sudah jadi alumni sih lebih tepatnya, tetapi memang masih akrab. Lalu, ditawarilah ia sebuah pekerjaan.

“Mau gawean gak, Lu? Kerjanya gampang, tapi duitnya gede. Lu tinggal nganterin barang doang”

Sejenak ia berpikir, uang saku tidak ada, jadi apa salahnya? Di awal pekerjaanya ini, ia tidak tahu menahu perihal apa yang dia antar. Sebatas bungkusan plastik yang katanya tidak boleh disebar. Ia hanya butuh uang, selebihnya ia tidak penasaran. Antar ke sana, antar ke sini. Simpan di sana, simpan di sini. Ssssttt jangan sampai mencuri perhatian!

Memang benar uang yang diterima itu cukup banyak. Tentu saja untuk ukuran pekerjaan yang tugasnya hanya mengantar. Sempat terbesit pertanyaan ‘Ko bisa, ya?’ dalam benaknya. Tetapi lagi-lagi ia memilih membuang muka. Bukannya ia benar-benar tidak tahu, ia hanya memilih untuk tidak percaya atas prasangkanya. Hingga datang suatu ketidaksengajaan, ia menjadi tahu bahwa pikiran selintasnya itu ternyata benar. Narkoba. Selama ini ia mengantar zat terlarang yang melanggar aturan. Kaget. Sudah tidak bisa lagi ia menyangkal. Faktanya, ia menjadi tidak tenang sekarang.

“Kriminal. Gua jadi kriminal”

Sedari kejadian ini, ia mulai menolak jika pekerjaan itu kembali datang, meskipun sesekali tetap dilakukan karena kebutuhan terus menyerang. Puncaknya adalah ketika aparat mengetahui eksistensi kerumunanya. Tentu saja ia terlibat, kan (pernah) menjadi salah satunya. Dalam pelariannya, senior yang pertama kali melibatkannya tertangkap. Naas sekali, ia menyaksikan seniornya itu tertembak. Lemas, ia lemas. Bagaimanapun juga, ia dekat dengannya. Kejadian yang begitu membekas. Tidak mau lagi ia mendekat pada barang terlarang itu, meski hanya sejengkal. Sudah saatnya putar arah. Cukup sampai sana ia terlibat. Tidak ada lagi pekerjaan mengantar barang. Ia sudah muak.

Usianya 20 saat menceritakan itu padaku, tepatnya di tahun yang sama dengan pertemuan pertama. Seorang teman yang juga mengenalnya bilang bahwa Abang sudah melihat sisi terang. Ada-ada saja. Istilah klise tapi memang benar adanya.

Cerita ini terinspirasi dari teman di dunia maya, ada hal-hal yang sejatinya hanya aku tambahkan untuk melengkapi tulisan. Terima kasih Bang W yang betulan teman pena, mari lekas kembali bertegur sapa. Oh iya, katanya ia sudah menikah sekarang. Sebagai penutup, selamat untuk pernikahannya, Bang!

--

--

Responses (1)